Menampilkan
Kategori:Featured

Kemarin, 25 November 2009, adalah hari guru. Terus terang, meski berprofesi sebagai guru, saya tidak tahu kalau hari itu adalah hari guru. Kalau bukan karena anak-anak muridku kirim sms ucapan terima kasih yang luar biasa.

Guru sebagai pendidik adalah seseorang yang berjasa besar terhadap masyarakat dan negara. Tinggi-rendahnya kebudayaan suatu bangsa, maupun maju-mundurnya tingkat kebudayaan tersebut, sebagian besar bergantung kepada pendidikan dan pengajaran yang diberikan oleh guru-guru.

Menjadi seorang guru memang bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Sebab, ia berhadapan dengan obyek hidup, yakni para siswa (generasi). Bila terjadi kesalahan dalam mendidik, maka akan mengakibatkan terlahirnya generasi yang salah didik. Hal itu tentu tidak dapat diganti walau dengan uang dalam jumlah besar.

Dalam kesempatan ini saya ingin berterima kasih secara terbuka kepada beberapa guruku yang telah menginspirasiku hingga saat ini, walaupun saya tahu tidak ada satupun guruku yang membaca tulisan saya ini.

Engkau bagai pelita dalam kegelapan/Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan / Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa.

Rasa-rasanya lagu ini selalu inget di hati kita. Bagi kita yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah kayaknya nggak bakalan lupa sama syair lagu ini. Lagu yang kalo sekarang dinyanyikan pun harusnya tetap membuat kita menghormati para guru. Soalnya cita-cita dan harapan yang bisa kita raih sekarang ini juga ada andil dari mereka. Sekecil apa pun. Apalagi kalo besar.

Masih terbayang bagaimana kita pas pertama kali masuk sekolah, pertama kali belajar nulis. Pensil yang kita pegang ikut bergetar karena tangan kita baru melakukannya, ditambah grogi pula. Tapi guru kita di sekolah dasar itu dengan telaten mengajari dan membimbing kita dengan tanpa pernah bosen. Ya, memberi pelita kepada yang sedang kegelapan adalah perbuatan yang insya Allah mulia. Apalagi jika ikhlas dilakukan. Allah pasti akan memberikan hujan pahala yang deras. Sangat deras barangkali.

Lagu Hymne Guru ini selalu mengingatkan kita pada mereka, para guru. Perhatian, kasih sayang, dan rasa pedulinya begitu luas hingga sulit bagi lisan ini untuk mengukir kata-kata yang terindah untuk mereka. Didikan dan bimbingannya masih terekam dalam benak kita dan tiap kata yang diucapkannya banyak mengandung nasihat.

Kalau di rumah kita mendapatkan rasa itu dari ayah, ibu, dan juga kakak-adik kita. Sementara di sekolah, guru yang memberikan semua rasa itu pada kita. Rasanya tak mungkin kalo bukan karena itu semua mereka mau membimbing kita. Mereka mengajar dengan penuh perhatian, selain karena ada tujuan materi yang diinginkan dari ilmu yang diajarkan kepada kita-kita, juga insya Allah berangkat dari idealisme untuk menciptakan manusia-manusia pembelajar di masa depan. Tentu, kita-kita ini diharapkan yang akan meneruskan perjuangan membangun negeri ini sesuai bidang yang digarap dan mampu kita lakukan. Awalnya, tentu kita belajar karena ada guru di sekolah.

Kalau udah ngomongin kebaikan juga pengorbanan yang mereka berikan untuk kita sepertinya nggak ada the end -nya.  Coba aja lihat, setiap hari mereka lebih banyak luangkan waktu di sekolah mulai dari ngajar, pertemuan para guru dan mengerjakan soal-soal ditambah lagi kudu membimbing dan membina kalo ada murid yang error tingkah lakunya. Waah itu semua rasanya butuh mata yang harus awas dan tentunya waspada. Berat memang tugasnya dan juga pengorbanannya. Tapi tentu betapa mulianya menjadi guru.

Nasib guru kita

Entah, karena pemerintah menerjemahkan lirik lagu  hymne guru itu secara keliru, sehingga yang dimaksud  pahlawan tanpa tanda jasa itu adalah mereka yang tanpa pamrih. Sehingga nggak dihargai dengan gaji pun mungkin nggak akan melawan atau berontak. Kenapa? Ya gitu deh, namanya pahlawan tanpa tanda jasa. Menyedihkan sekali ya?

Jadi inget lagunya Bang Iwan Fals yang sangat terkenal, yakni  Oemar Bakri . Lagu ini berkisah tentang keprihatinan terhadap nasib guru. Seorang guru bernama Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals ini digambarkan sebagai sosok guru yang sangat mengabdi sampai usia tuanya. Tetap semangat mengajar murid-murid tercintanya meski gaji sering  disunat. Tragis sekali.

Bahkan ketika murid-muridnya sudah  jadi orang, sosok Oemar Bakri tetap saja sederhana, dan nasibnya tak kunjung membaik. Saat ini pun kita sering mendengar kisah-kisah memilukan tentang profesi guru. Ada banyak  Oemar Bakri lainnya yang kini menderita. Ya, seperti melanjutkan  estafet nasib Oemar Bakri dalam lagu Bang Iwan Fals tersebut.

Itu sebabnya, amat wajar bahwa kita pantas dan layak untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada guru kita semua. Ijinkan kami memberikan tanda cinta kami yang tak pernah luntur oleh waktu. Guruku, ketulusan dan keluasan ilmumu yang berguna selalu kau limpahkan untuk bekalku nanti. Bila saya bertemu atau punya nomor HP guruku pastilah kutelpon dan kusampaikan ini semua.

Dan, semoga saja kita semua bisa mewujudkan niat baik untuk menghormati, menghargai, dan memberikan yang terbaik untuk para guru sebagai tanda cinta dan rasa terima kasih yang amat dalam. Sukses untukmu GURUKU. Amin.

 

One Response to “25 Nopember yang terlupakan”

  1. RONALD Says:


    MedicamentSpot.com. Canadian Health&Care.Best quality drugs.Special Internet Prices.No prescription online pharmacy. Online Pharmacy. Order drugs online

    Buy:Viagra Super Active+.Viagra Super Force.Cialis.Viagra Soft Tabs.Cialis Soft Tabs.Tramadol.Super Active ED Pack.Zithromax.Propecia.Cialis Professional.Cialis Super Active+.Maxaman.Levitra.Soma.Viagra Professional.VPXL.Viagra….

Leave a Reply

© 2010 Obor penerang gulita. All rights reserved. | Designed by: Elegant WP Themes